Problematika Pengakuan Hukum Adat dan Kepastian Hukum dalam Surat Pernyataan Waris di Bawah Tangan Berbasis Konsep Purusa

Authors

  • I Ketut Abdi Jayantara Universitas Pendidikan Nasional
  • Dewa Ayu Putri Sukadana Universitas Pendidikan Nasional
  • I Nyoman Budiana Universitas Pendidikan Nasional
  • Agung Ayu Intan Puspadewi Universitas Pendidikan Nasional

DOI:

https://doi.org/10.37481/jmh.v6i2.2071

Keywords:

Inheritance Statement, Positive Law, Purusa, Evidence, Legal Certainty

Abstract

This study addresses the legal uncertainty surrounding privately executed Statements of Inheritance (Surat Pernyataan Waris/SPW) in Indonesia, particularly when such documents are grounded in the purusa concept of Balinese customary law. While previous studies have discussed either evidentiary law or customary inheritance separately, limited attention has been given to their intersection within the framework of legal pluralism. This research aims to examine the legal validity of SPW under Indonesian positive law and to assess its evidentiary strength when influenced by the purusa principle. The study employs a normative legal method using statutory and conceptual approaches, focusing on provisions of the Indonesian Civil Code and constitutional recognition of customary law. The findings indicate that an SPW, as a private deed, has limited probative value and cannot serve as conclusive evidence without acknowledgment or supporting proof. Although the purusa concept provides strong sociocultural legitimacy in determining heirs, its application does not automatically fulfill formal legal requirements. Consequently, an SPW based on purusa must be aligned with the national legal system to ensure legal certainty and enforceability in inheritance disputes.

References

Aditya, Z. F., & Yulistyaputri, R. (2019). Romantisme sistem hukum di Indonesia: Kajian atas kontribusi hukum adat dan hukum Islam terhadap pembangunan hukum di Indonesia. Jurnal Rechtsvinding, 8(1), 37-54.

Arisanthi, N. M. S. K., Budiartha, I. N. P., & Sugiartha, I. N. G. (2021). Pertimbangan hakim dalam penilaian alat bukti surat pada perkara penetapan ahli waris. Jurnal Preferensi Hukum, 2(1), 99-103.

Ayu, S., Santoso, A. P. A., & Muftiyanto, T. N. (2025). Pembuktian akta di bawah tangan untuk digunakan sebagai alat bukti di pengadilan. Rio Law Journal, 6(1), 172-180.

Baiquni, B., et al. (2021). Eksistensi hak ulayat masyarakat adat dalam Undang-Undang Pokok Agraria. IPMHI Law Journal, 1(1), 1-91.

Bestari, G. S. M., & Sari, V. E. P. (2025). Keabsahan surat pernyataan kerelaan ahli waris dalam proses balik nama hak atas tanah. Jurnal Pendidikan Indonesia, 6(1), 1-10.

Choirunnisa, C., & Halim, A. (2022). Kajian pemahaman masyarakat terhadap kekuatan pembuktian akta di bawah tangan di pengadilan. Jurnal Hukum dan Kenotariatan, 6(1), 514-528.

Dewi, A. A. I. (2021). Dinamika hukum adat Bali dalam perkembangan masyarakat modern. Jurnal Ilmu Hukum, 7(2), 112-124.

Fajar, M., & Achmad, Y. (2019). Dualisme penelitian hukum normatif dan empiris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gusti, I., et al. (2023). Eksistensi purusa dan pradana dalam pewarisan menurut hukum adat Bali. Widya Duta: Jurnal Ilmiah Ilmu Agama dan Sosial Budaya, 18(1), 80-96.

Hastarini, A., Fadhil, G., & Luthfan, F. (2022). Kedudukan hukum masyarakat adat dalam memperoleh hak atas tanah di Indonesia. Jurnal Hukum Sasana, 8(2), 243-264.

Hidayat, R. (2022). Problematika pembuktian hak atas tanah dalam perspektif hukum positif Indonesia. Jurnal Pertanahan Nasional, 12(1), 55-70.

Ibrahim, J. (2020). Teori dan metodologi penelitian hukum normatif. Malang: Bayumedia Publishing.

Lestari, D., & Widodo, S. (2020). Kekuatan pembuktian akta di bawah tangan dalam perkara perdata. Jurnal Yustisia, 9(1), 25-39.

Marzuki, P. M. (2021). Penelitian hukum. Jakarta: Kencana.

Mertokusumo, S. (2020). Hukum acara perdata Indonesia. Yogyakarta: Liberty.

Nurjaya, I. N. (2020). Pluralisme hukum dalam perspektif pembangunan hukum nasional. Jurnal Hukum IUS QUIA IUSTUM, 27(1), 1-15.

Pradhani, S. I. (2021). Pendekatan pluralisme hukum dalam studi hukum adat. Undang: Jurnal Hukum, 4(1), 81-124.

Prasetyo, D. (2023). Harmonisasi hukum adat dan hukum nasional dalam sistem hukum Indonesia. Jurnal Rechtsidee, 11(1), 33-47.

Putri, K., Wardani, L., Akbar, T., & Yunanto, R. (2024). Balancing the roles of purusha and pradana. Journal of Social and Cultural Anthropology, 10(1), 82-92.

Rahardjo, S. (2019). Hukum progresif: Hukum yang membebaskan. Jakarta: Kompas.

Rahman, A. (2021). Kedudukan alat bukti tertulis dalam hukum acara perdata. Jurnal Hukum dan Peradilan, 10(2), 145-160.

Said, S. U., & Maulana, R. I. (2023). Warisan keluarga dan hukum adat: Tinjauan terhadap sistem waris di Bali. Indonesian Journal of Social Sciences and Humanities, 3(2), 20-25.

Saputra, I. K. A., et al. (2025). Kedudukan anak perempuan sebagai ahli waris dalam perspektif hukum adat Bali. Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 3(6), 10604-10610.

Subekti. (2021). Hukum pembuktian. Jakarta: Balai Pustaka.

Suryani, N. L. P. (2020). Sistem kekerabatan purusa dalam hukum adat Bali. Jurnal Hukum dan Kebudayaan, 5(1), 45-58.

Tan, D. (2021). Metode penelitian hukum: Mengupas dan mengulas metodologi dalam penyelenggaraan penelitian hukum. Jurnal Hukum, 7(2), 45-60.

Ter Haar, B. (2019). Asas-asas dan susunan hukum adat. Jakarta: Pradnya Paramita.

Wibowo, A. (2022). Kekuatan pembuktian akta di bawah tangan dalam praktik peradilan perdata. Jurnal Yuridis, 9(2), 210-225.

Winarti, M. P., Putra, F. R., & Rafsanjani, M. A. (2024). Problematika hak waris bagi anak angkat dalam masyarakat adat Bali. Indonesian Journal of Social Sciences and Humanities, 4(2), 1-8.

Downloads

Published

2026-05-01

How to Cite

Jayantara, I. K. A., Sukadana, D. A. P., Budiana, I. N., & Puspadewi, A. A. I. (2026). Problematika Pengakuan Hukum Adat dan Kepastian Hukum dalam Surat Pernyataan Waris di Bawah Tangan Berbasis Konsep Purusa. AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis, 6(2), 920–930. https://doi.org/10.37481/jmh.v6i2.2071

Most read articles by the same author(s)